Tak Perlu Menjadi Kyai
Sebuah kisah inspiratif yang saya jalani selama mengabdi di TPQ tepatnya d konanag galis pamekasan. Naufal adalah salah satu nama dari santri di TPQ tesebut yang saat ini sedang belajar disekolah dasar dekat denga rumahnya. dia sekarang masih duduk dibangku kelas VI dan kebetulan di TPQ dia termasuk santri senior sehingga dia ikut ngaji kitab bersama santri senior lainnya.TPQ Darul Ulum merupakan lembagapendidikan yang mengajarkan Alquran dan moral, bahkan disana juga mengajarkan sebuah kitab Tarjuman yang mana kitab tersebut adalah kitab karang kyai besar di pondok pesantren banyuanyar, tulisan tersebut menggunakan Bahasa Madura halus dengan tulisan Arab.
Pada pertemuan Pertama saya datang lebih awal karena pada hari itu saya bersama teman teman masih mau minta izin untuk melakukan pengabdian di TPQ Darul Ulum.sebelum saya minta izin saya sedikit menceritakan atau mensosialisasikan terkait dengan program KKN kepada beliau akhirnya ketua TPQ tersebut menerima kami dengan senang hati. Setelah kami di terima untuk mengbdi di TPQ tersebut .
Jam dingding menunjukkan pukul 17. 35 yang berarti waktu itu menunjukkan sholat maghrib akan segera tiba untuk kawasan pamekasan dan sekitarnya. Beberapa sond sudah berbunyi dengan bacaan al quran yang berbeda beda ada yang bacaannya dengan tartil dan ada juga bacaannya dengan qori’ terkenal yaitu syeh Mu’ammar yang suaranya sangat bagus sekali untuk didengar.
10 menit berlalu terkumandanglah adzan di berbagai masjid dan mushollah di daerah itu dengan suara adzan yang berbeda juga. Ada suara kakek, ada yang biasa, dan ada juga yang suaranya anak kecil
Anak kecil tersebut kebetulan yang menjadi muadzin di TPQ tempat saya mengabdi, dia kira kira berumur 8 tahun, sangat luar biasa sekali dia melanjutkan pujian kepada rosul setelah adzan selesai, dengan lancarnya dia berdzikir memuji rosul seakan dia hafal dan meresapi arti dari pujian tersebut.
Sholat maghrib telah selesai sehingga pada saat itu kepala TPQ meminta kami untuk mengajar Al quran, karena siswanya banyak maka saya bagi siswa tersebut dengan beberapa kelompok dengan cara berhitung satu sampai empat, berhitung sudah selesai berkumpulah siswa yang menyebutkan angka satu dengan angka satu , dua dengan angka dua dan seterusnya saipai dengan angka empat.
Pada hari selanjutnya tepatnya pada hari rabu TPQ darul ulum untuk kegiatan mengajar Al quran bagi siswa yang senior diliburkan dan diganti dengan kajian kitab Tarjuman. setelah sholat maghrib selesai saya diminta untuk menggantika Kepala TPQ untuk mangajarnya dan kegiatan mengajar tersebut harus menggunakan pengeras suara sehingga saya merasa sungkan takut salah atau apalah…..
Memang kitab tarjuman tesebut adalah karangan kyai Baqir pengasuh pesantren banyuanyar dan saya memang pernah belajar kitab itu 7 tahun yang lalu karena saya alumni pesantren tersebut. Untuk itu dengan terpaksa saya mengisi kajian tersebut dengan berhati hati takut ada yang salah demi menjaga nama baik Al hikmah. Saya selalu ingat dengan kata kata AL HIKMAH SELALU BISA, PANTANG MENULAK TUGAS.
Di pertengahan kajian saya meminta beberapa siswa untuk membacanya kitab tersebut dengan menggunakan pengeras suara juga , begitu lancanya mereka dan begitu santainya mereka membacanya sungguh saya kagum sekalimelihat siswa tersebut yang masih berumu 12 tahun sudah bisa membaca kitab dengan menggunakan Bahasa Madura bertuliskan huruf arab. Itulah pendidikan yang harus ditanamkan dan dipertahankan , membaca kitab , mengkaji kitab sejak dini sangat membantu pembentukan karakter dengan baik.
Komentar
Posting Komentar