Pengaruh Model Kooperatif Tipe NHT
Terhadap Kecerdasan Interpersonal Siswa
Moh.
Hasanuddin1; Moch Lutfianto2
STKIP AL HIKMAH Surabaya, Jalan Kebonsari Elveka V, Surabaya;
Abstrak:
Kecerdasan intelektual yang dimiliki siswa sangat penting,
tetapi kecerdasan intelektual yang di
sertai dengan kecerdasan intepersonal jauh lebih penting karena dengan hal itu
siswa mampu Memiliki sosial dan keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan
mendengarkan, berbicara dan menulis
secara efektif. Untuk
mencapai hal tersebut, tugas dan peranan guru sangatlah penting. Dalam
pembelajaran, guru diharapkan mampu memilih dan menentukan model pembelajaran
yang tepat sehingga dapat memperoleh hasil yang baik. Model pembelajaran
kooperatif tipe NHT merupakan model pembelajaran yang memungkinkan berkerja
sama secara kelompok dengan berdiskusi yang melibatkan semua anggota
kelompoknya dengan menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil diskusinya di depan
kelas. Selain mengkomunikasikan dan mempresentasikan ide-ide, siswa juga
dituntut untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh temannya.
Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap kecerdasan interpersonal siswa
pada topik Vektor. Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji-r dengan menguji perbedaan rata-rata hasil pretest
dengan hasil postest. Karena rata-rata nilai postest lebih
besar dibandingkan rata-rata pretest, maka hipotesis (
) diterima dan (
) ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dapat digunakan
untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal
siswa pada topik Vektor.
1.
Pendahuluan
Sekolah merupakan salah satu lembaga
yang dapat mewujudkan tujuan peningkatan mutu sumber daya manusia. Dengan
adanya pendidikan, individu memiliki modal dasar untuk menjadi manusia yang berkualitas baik melalui pendidikan
formal maupun pendidikan informal. Namun tujuan tersebut masih belum maksimal
dengan kata lain pendidikan saat ini masih mementingkan kemampuan intelektual
saja padahal kemampuan intelektual jika tidak d mbangi dengan kemampuan sosial
atau kemampuan inteprsoanal maka dalam kehidupannya kurang baik.
Seperti yang
dikemukakan (Siti Muniroh, 2008), dunia
pendidikan di Indonesia masih belum memperhatikan pentingnya kecerdasan sosial dalam membangun
kesuksesan hidup anak. Pendidikan di Indonesia masih menitikberatkan pada aspek
kecerdasan intelektual semata. Sebagian besar kurikulum dan proses belajar
dipusatkan pada peningkatan prestasi akademik siswa. Sehingga anak remaja saat
ini khususnya anak sekolah menengah kerisis akan multidimensi yang
berkepanjangan sehingga terjadilah masalah
sosial sosial yang tidak d nginkan.
Tujuan belajar
akan berhasil lebih optimal jika dalam diri siswa memiliki berbagai macam kecerdasan. Gardner (dalam
Iskandar 2009:53) mengemukakan bahwa kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur
kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan
visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Salah
satu dari beberapa macam kecerdasan yang telah disebutkan adalah kecerdasan
interpersonal. Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk
peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan
berinteraksi dengan orang lain
Menurut Gardner, yang dikutip
oleh Iwan Sugiarto (2004) ”intelegensia seseorang ada 8 macam, yaitu intelegensia Linguistik, Logis Matematik,
Visual Spatial, Kinestetik, Musikal, Naturalis, Interpersonal, dan
Intrapersonal”. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses
informasi yang akan masuk ke dalam dirinya, karena kecerdasan tesebut merupakan
modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa.
Kecerdasan
interpersonal adalah kemampuan dimana seseorang dapat memahami dan berinteraksi dengan orang lain
secara efektif. Karir yang sesuai dengan
Kecerdasan Interpersonal ini hampir mencakup semua karir yakni politisi,
manajer, guru, konselor dan pekerja sosial. Orang yang memiliki kecerdasan ini
dapat membedakan suasana hati, maksud, dan motivasi serta perasaan orang lain.
Siswa dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi yang
baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui
dan menggunakan banyak cara saat berinteraksi. siswa juga mampu merasakan
perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain, serta mampu bekerja
sama dengan orang lain.
Menurut
Safaria (2005) Kecerdasan interpersonal adalah individu
yang tingggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang
efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang
harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat,
suasana hati, motif orang lain. Pilihan
pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang memiliki kelebihan pada kecerdasan
interpersonalnya antara lain: guru, konselor, psikolog, psikiater, pekerja
sosial, profesioal pengembangan sumber
daya manusia, salesman, mediator
Dimensi kecerdasan interpersonal
menurut Safaria (2005) yaitu:
(a) Social sensitivity, yaitu
kemampuan remaja untuk mampu merasakan dan mengamati reaksi – reaksi atau
perubahan orang lain yang ditunjukkanya baik secara verbal maupun nonverbal.
Remaja yang memiliki sensivitas sosial yang tinggi, akan mudah memahami dan
menyadari adanya reaksi – reaksi tertentu (positif/ negatif) dari orang lain.
Indikatornya yaitu : (1) Kesadaran diri. (2) Pemahaman situasi dan etika sosial. (3) Ketrampilan
pemecahan masalah.
(b) Sosial insight, yaitu Kemampuan
remaja untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam suatu
interaksi sosial, sehingga masalah – masalah tersebut tidak menghambat apalagi
menghancurkan relasi sosial yang telah dibangun remaja. Tentu saja pemecahan
masalah yang ditawarkan menang – menang (win – win solution). Di dalamnya
terdapat juga kemampuan remaja dalam memahami situasi dan etika sosial,
sehingga remaja mampu beradaptasi dengan situasi tersebut. Fungsi dasar dari sosial insight adalah berkembangnya
kesadaran diri remaja secara baik, dengan kecerdasan yang berkembang ini akan
membantu remaja memahami keadaan (internal/ eksternal) dirinya, seperti
memahami emosi yang sedang muncul/ menyadari penampilan cara berpakaiannya
sendiri, cara berbicaranya dan intonasi suaranya . Indikatornya yaitu: (1)
Empati. (2) Prososial
(c) Social communication yaitu
Merupakan kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin
dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Sarana yang dipakai dalam proses
menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi sosial adalah melalui proses
komunikasi verba, non verbal maupun komunikasi melalui penampilan fisik.
Indikatornya yaitu (1) Komunikasi efektif . (1) Mendengarkan efektif
Upaya peneliti yang dianggap dapat membantu
mengatasi permasalahan di atas yaitu dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif. Untuk itu peneliti
menggunakan model koopertif tipe NHT Harapannya dengan menggunakan model
pembeljaran tersebut dapat meningkatkat
kecerdasan interoersonal siswa sehingga perselisihan atau konflik sosialnya
bisa teratasi.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model koopertif tipe NHT terhadap kecerdasan interpersonal siswa kelas
X MIA-3 pada materi Vektor.
Model
pembelajaran dapat diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu
pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Istilah model
pembelajaran mempunyai makna yang angat luas dan lebih luas dari pada strategi,
Metode, atau prosedur. Dalam model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus
yaitu: (a) Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau
pengembangnnya, (2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimanasiswa belajar,
(3) Tingkah laku mengajar yang
diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, (4) Lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Istilah
model pembelajaran meliputi pendekatan
suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Model model pembelajaran
dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks(pola
urutannya) dan sifat lingkungan belajrnya. Sintaks dari suatu model
pembelajarannya adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap keseluruhan
yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembeljaran yang
ditunjukkan dengan jelas kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru..
Hubuungan
keerdasan interpersonal siswa dengan kooperatif tipe NHT adalah (1) Mampu mengembangkan dan
menciptakan relasi sosial baru secara efekti sedangkan sedagkan dalam model
siswa dibuat kelompok yang dipilih secara heterogen sehingga terjadi relasi
antar siswa, (2) Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain
secara total, sedang dalam kooperatif tipe NHT dalam
kelompok tersebut siswa ditugaskan untuk berdiskusi sehingga ketika ada teman
yang menjelaskan atau mengajukan pendapat siswa diharapkan saling menghargai
dan menghargai antar sesama, (3) Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara
efektif, senantiasa berkembang semakin intim, mendalam, dan penuh makna
begitupun dalam kooperatif siswa di dalamnya saling menghargai dan menghormati
sehingga terjalin sosial yang baik dan
tidak terjadi konflik antar sesama (4) Mampu memecahkan masalah yang terjadi
dalam relasi sosialnya dengan pendekatan win-win solution, dalam
kooperatif tipe NHT diskusi tersebut pasti menemukan masalah
masalah sehingga siswa diharapkan dapat menemukan solusi dengan solusi terbaiknya,
(5) Mencegah munculnya masalah dalam relasi sosialnya, Didalam kelompok diskusi
siswa diharapkan untuk saling menghargai dan menghormati sekaligus menerima
komintar atau masukan dari teman sejawatnya. (6) Memiliki keterampilan
komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkana secara efektif, berbicara
secara efektif begitu juga dengan Kooperatif tipe NHT yaitu
Setelah kelompok diskusi selesai maka setiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya kedepan, sehingga siswa di harapkan dapat menyampaikan hasil diskusi
dengan kalimat yang mudah dipahami dan siswa yang lain memperhatikan apa yang
disampaikan oleh presentator.
Berdasarkan uraian landasan teori di atas, maka
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “pengaruh penerapan model koopertif
tipe NHT terhadap kecerdasan interpersonal siswa kelas
X MIA-3 SMA Negeri 18 Surabaya”
1.2
Metode
Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil
subjek penelitian adalah 35 siswa kelas X
MIA-3 SMA Negeri 18 Surabaya. Jl. Bibis Karah Sarah No. 9 Surabaya dengan metode peneltiain
kuantitatif untuk menguji pengaruh penerapan model koopertif tipe NHT
terhadap kecerdasan interpersonal siswa
Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah membuat perencanaan, menerapkan model pembelajaran menggunakan
kooperatif tipe NHT ,
mengumpulkan data, menganalisis data serta melaporkan hasil penelitian.
Pada tahap perencanaan, peneliti merancang model pembelajaran kooperatif tipe NHT,
membuat lembar kerja dan instrumen penelitian. Langkah-langkah penelitian ini
mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari
empat tahap, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi.
Data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang berhubungan dengan hasil
pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap
kecerdasan interperonal siswa. Data hasil postes siswa digunakan untuk melihat
seberapa besar pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap
kecerdasan interpersonal siswa pada topik vektor.
Pada tahap penerapan model pembelajaran (treatment), peneliti mnggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam
topik vektor. Peneliti membuat 7
kelompok yang beranggotakan 5 siswa yang
di ambil secara heterogen , kemudian 7 kelompok tersebut dibuat diberikan
permasalahan yang sama dan didiskusikan dengan anggotanya. Pada awal treatment siswa diberi pretest
yang akan digunakan untuk melihat seberapa besar kecerdasan interpersonal siswa yang dimiliki sebelum
diberikan treatment. setelah itu
diberikan perlakuan dan di akhir perlakuan diberikan postest untuk melihat seberapa besar pengaruh penerapan model
tersebut terhadap kecerdasan interpersonal siswa.
Pada
tahap pengumpulan data Peneliti memberikan pretest sebelum menerapakan model
pembelajaran (treatment) dan postes
yang terdiri dari soal angket dengan waktu 15 menit. Setelah menerapkan model
pembelajaran (treatment). Peneliti
menekankan kepada siswa untuk mengisi postes yang berupaa angket secara
jujur dan tidak bekerja sama satu sama lain. Hal ini bertujuan agar menghindari
bias.
Pada tahap analisis data, Data dianalisis
dengan langkah-langkah berikut yaitu mendeskripsikan data, menganalisis secara
kuantitatif untuk data berupa skor, dan menyimpulkan data. Sedangkan data postes
dilakukan analisis kuantitatif yaitu dengan Uji-r Satu Pihak Kanan. (1) Uji hipotesis ini menggunakan rumus t-test dengan ketentuan
sebagai berikut. Hipotesis nol (
: Prnggunaan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT tidak dapat meningkatkan
kecerdasan interpersonal siswa SMA Negeri 18 Surabaya. (2) Hipotesis alternatif (
:Penggunaan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan kecerdasan
interpersonal siswa SMA Negeri 18
Surabaya
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan menggunakan design The-One-Group
Pretest-Postest Design. Desain ini menggunakan pretest sebelum
diberi perlakuan, dilanjutkan dengan perlakuan (treatment) lalu diakhiri
dengan melakukan postest untuk membandingkan hasil yang diperoleh, dari
keadaan sebelum diberi perlakuan dengan keadaan sesudah diberi perlakuan.
Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut.
|
|
Keterangan:
𝑋 :
Pemberian treatment
Pretest (
) dilaksanakan sebelum guru memberikan perlakuan terhadap siswa. Treatment
(𝑋) dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
dengan menggunakan tahapan-tahapan yang telah
dijelaskan pada bab sebelumnya.
Postest (
) dilaksanakan setelah guru memberikan pelakuan.
Dalam
penelitian ini, data yang dianalisis adalah nilai pretest dan postest
siswa. Analisis tersebut bertujuan untuk mengetahui peningkatan kecerdasan
interpersonal siswa. Siswa diberikan pretest sebelum pembelajaran
dimulai, lalu siswa diberikan treatment dan akhirnya siswa akan diberi postest untuk melihat apakah terjadi peningkatan
terhadap kecerdasan interpersonal siswa.
1.3 Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini siswa dalam kelompok menilai dua orang teman dalam kelompok
tersebut, misalkan kelompok A beranggotakan lima orang yaitu
. Maka
menilai
, kemudian
menilai
dan
dan
seterusnya, setiap siswa dinilai oleh dua orang teman anggotanya sehinga nilai pretest
nya diambil dari nilai rata rata kedua nilai tersebut begitupan dengan nilai postest.
Penelitian ini
hanya terdiri dari 1 siklus yang dilaksanakan 4 kali pertemuan
. Perencanaan siklus I meliputi:
a.
Menyiapkan
rencana pelaksaan (RPP).
b.
Menyiapkan
materi.
c.
Menyiapkan pretest
dan postest
d.
Meyiapkan model
pembelajaran
e.
Melakukan
koordinasi antara peniliti dengan guru.
Dari siklus I
tersebut, pertemuan ke-1 peneliti memberikan pretest berupa soal angket sekaligus menjelaskan
pengisian angket tersebut dengan menekankan kepada siswa untuk mengisi angket
tersebut dengan sejujur jujurnya dan meriview materi sebelumnya, pemberian contoh soal dan pembahasan .
Pertemuan ke-2 meliputi review materi sebelumnya, penerapan model kooperatif tipe NHT yang diisi dengan diskusi dan perwakilan
kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Pertemuan ke-3
peneliti mealakukan sama dengan pertemuan ke-2. Pada pertemuan ke-4 peneliti
memebrikan motivasi agar siswa semangat dan memberikan postest berupa soal
angket sekaligus menjelaskan kembali pengisian angket tersebut, dengan menekankan
mengisi soal angket tersebut dengan jujur karena angket tersebut tidak
berhubungan dengan nilai PR atau UTS (Ujian Tengah Smester), Hal ini bertujuan
agar data yang diperoleh akurat serta menghindari bias.
Pada
Pengumpulan data selama penelitian, data yang diperoleh meliputi data hasil pre-test
dan post-test. Setelah menerapkan pembelajaran (treatment).
Tabel 2. Hasil Pre-test dan Post-test.
|
||
Keterangan
|
Kelas Eksperimen
|
|
Pretest
|
Postest
|
|
Rata-rata
|
69,3
|
75,214
|
Untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan
model Kooperatif tipe NHT terhadap kecerdasan interpesonal siswa dilakukan Uji-r untuk uji hipotesis.
Dari uji-r diperoleh
dan
. Karena nilai
yaitu
dengan demikian
diterima. Jadi dapat
disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif tipe NHT memberikan
pengaruh terhadap kecerdasan interpersonal siswa .
Hasil analisis
data memperlihatkan bahwa kecerdasan interpersonal siswa meningkat setelah
diterapkan pembelajaran model kooperatif tipe NHT. Hal ini menunjukan
bahwa penerapan pembelajaran model kooperatif tipe NHT memberi dampak
positif terhadap kecerdasan interpersonal siswa.
DAFFTAR
PUSTAKA
Joyce,
Bruce Dkk. 2016. Models Of Teacing. Yogyakrta:pustaka belajar.
Mafrihin. 2009. UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MATERI POKOK
SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII A SEMESTER GANJIL MTS ASSALAFIYAH LUWUNGRAGI BREBES
TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Semarang : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG.
Nur dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA UNIVERSITY PRESS.
Sardiman, A. M. 2004. Interaksi dan motivasi
belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali.
Lwin, May, etc. 2008.
Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Indonesia :
penerbit Indeks.
Prasetyo, J.J. Reza dan Yeni Andriani. 2009 Multiply
Your Multiple Intelligences. Yogyakarta: Andi.
Safaria, T. 2005
Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal
Anak. Yogyakarta: Amara Books.
Huda,Miftahul .(2012). Coorperative Learning: Metode, Teknik,
Struktur dan Model Terapan.
Yogyakarta : Pustaka Belajar Lestari karunia eka,dkk. 2015 Penelitian pendidikan matematika. Karawang: Refika ADITAMA
Yogyakarta : Pustaka Belajar Lestari karunia eka,dkk. 2015 Penelitian pendidikan matematika. Karawang: Refika ADITAMA
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung : Alfabeta
Iwan Sugiarto. 2004. Mengoptimalkan Daya
Kerja Otak Dengan Berpikir Holistik & Kreatif. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Umum
Iskandar.2009.Psikologi pendidikan.
Jakarta:Gaung Persada Press
Mawardi, Pitalis dan Paiman 2015 UPAYA DOSEN MENGEMBANGKAN KECERDASAN
INTERPERSONAL DAN INTRAPERSONAL PADA PROSES PERKULIAHAN PENDIDIKAN
GEOGRAFI DI IKIP PGRI PONTIANAK, Jurnal
Edukasi, Vol. 13, No. 1, Juni
Trianto. (2009). Mendesain model Pembelajaran
Inovatif-Progresif: konsep landasan dan
implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta : Prenada
Nadia Group
implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta : Prenada
Nadia Group
Robert E. Slavin. (2010). Cooperative Learning
:Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa
Media
Media
Ernawati,
agustin. 2009. PENGINTEGRASIAN KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCES)
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI POKOK KUBUS DAN BALOK DI KELAS VIII
SMP NEGERI 23 SIRABAYA. Surabaya: UNESA
Komentar
Posting Komentar