Belajar sambil bermain


Berawal dari observasi dan konsultasi dengan guru pamong aku ditawarkan untuk mengajar di beberapa kelas, kelas yang ditawarkan adalah kelas VIII A,B,C,D,E namun beliau menjelaskan sekilas tentang kelas yang di tawarkan tadi. Ada satu kelas yang sangat menarik bagi saya yaitu kelas VIII D yang katanya kelas paling super segalanya. Super nakal, super ramai, dan lain lain. Sebagian besar guru di sana mengatakan Bahwa kelas tersebut merupakan kelas yang sangat sulit diatur dan bahkan menentang terhadap instruksi gurunya.
Beginilah keadaan siswa saat ini. Siswa nakal itu biasa namun yang perlu saya siapkan sebelum saya mengajar adalah bagimana siswa itu bisa mengikuti pelajaran tetap dalam keadaan kondusip dan menyenangkan.
Pada pertemuan pertama saya masuk kelas ternyata semua yang diceritakan oleh guru tersebut tidak salah dan bahkan saya lihat siswa tersebut ada yang aneh dari kelakuannya, ada yang keluar mondar mandir ke WC, ada yang ngomong sama teman samping kanan dan kirinya. Saat itu aku bingung mau apa menyampaikan ini itu  siswa kurang merespon apa yang disampaikan meskipun ada cuma sedikit yang ngerespon nya.

Pada pertemuan kedua aku mikir sendirian, jika aku ngajarnya seperti itu lagi pasti responnya kayak gitu saja. Akhirnya aku membuat model pembelajaran yang lain yang berbeda dengan model pembelajaran sebelumnya yaitu Teams Games Turnament (TGT) yang mana siswa dibuat  empat klompok yang terdiri dari klompok Abubakar, Umar, Usman, dan Ali. Sengaja aqu buat klompok seperti itu dengan harapan siswa mengingat sahabat Rosul sebagai mutivasi kepada siswa, tidak hany itu saja aku sedikit  memberi motivasi tentang akhlak terpuji keempat sahabat rosul tersebut sehingga siswa sedikit demi sedikit hatinya menjadi sadar dan lebih baik dari sebelumnya dan pelajaran berjalan seperti apa yang diharapkan.

Pada pertemuan selanjutnya tetap saya menggunakan model pembelajaran TGT  karena saya kira model pembelajaran tersebut sangat baik bagi siswa kelas VIIID yang siswanya mayoritas nakal dan tidak semangat belajar untuk menyemangatkan siswa  dan hasilnya jelas dari pertemuan ke dua bahwa siswa lebih semangat untuk belajar dan pada pertemuan ketigapun seperti itu dan bahkan lebih meningkat. dan pada pertemuan terhirpun siswa merasa kurang belajar bersama saya  ketika saya katakan “ saya hari ini hari terakhir “ pada saat itu,

Cara duduk siswa menajdi tolak ukur, bahwa siswa semangat belajar. sebelum itu saya sampaikan cerita tentang sekolah PETRA yang mayoritas disipilin siswa sangat tinggi sehingga cara dudukpun saya sampaikan klau duduk siswa PETRA itu duduk dengan tega dan menghadap kedepan dan pada akhirnya pun siswa mengerjakan soal latihan secara individu dan hasilnya sangatlebih baik dari yang sebelumnya 

Begitulah siswa seperti belajar dan bermain seperti tak mengenal waktu karena keasikan belajar mereka .








Komentar

Postingan populer dari blog ini

rangkuman K13

Rumah Yang Gelap